Post Page Advertisement [Top]

bisnis

5 Fakta Seputar Diizinkannya Maskapai Mengangkut Penumpang

5 Fakta Seputar Diizinkannya Maskapai Mengangkut Penumpang
Ilustrasi (Sumber: Pexels.com)

Sejak Covid-19 menjadi pandemik, segala industri habis tak terkulai dihantam olehnya, tidak terkecuali industri penerbangan. Bahkan maskapai multinasional sekelas AirAsia pun terpaksa harus menghentikan sementara operasi layanannya untuk semua rute, termasuk rute di Indonesia.

Bukan cuma itu saja, maskapai lokal pun tidak mau ambil resiko dengan mewabahnya virus corona baru ini. Mereka juga mengikuti langkah yang telah diambil oleh AirAsia. Maskapai lokal yang sempat secara resmi mengumumkan menutup sementara layanannya, berdasarkan pantauan Admin, adalah Lion Air Group dan TransNusa Air.

Maskapai tersebut menutup sementara layanannya karena diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Indonesia. Dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19, praktis kegiatan keluar-masuk orang via semua matra transportasi dibatasi pula.

Keputusan untuk menutup sementara layanan operasional maskapai sudah dianggap tepat karena mereka mendukung dan membantu Pemerintah dalam rangka memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Terlebih lagi Pemerintah melarang warga untuk mudik.

Dengan dilakukannya penutupan sementara layanan operasional maskapai membuat aliran kas tersendat dan berimbas kepada roda perekonomian di Indonesia. Tapi sekarang maskapai bisa bernapas lega karena Pemerintah telah melonggarkan aturan PSBB dengan cara membuka kembali bandara dan mengizinkan maskapai beroperasi kembali dengan berbagai persyaratan.

Berikut Admin AyoPigi merangkum berbagai fakta seputar dibukanya kembali bandara beroperasi di tengah pandemik Covid-19.


Payung Hukum



Indonesia adalah Negara yang berdasarkan hukum. Oleh karena itu segala tindak laku yang dilakukan oleh Pemerintah harus berdasarkan aturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

Sehubungan dengan dibukanya kembali bandara dan pemberian izin kepada maskapai untuk mengangkut penumpang, Pemerintah menggunakan salah satu peraturan perundang-undangan, yakni Peraturan Menteri Perhubungan PM Nomor 18 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19.

Ini dibuktikan dengan dikeluarkannya Surat Edaran Gugus Tugas Nomor 4 Tahun 2020 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19 dan Surat Edaran Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Nomor 32 Tahun 2020 tentang Petunjuk Operasional Transportasi Udara untuk Pelaksanaan Pembatasan Perjalanan Orang dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19.


Tidak Semua Orang Bisa Diangkut


Perlu sobat traveler ketahui bahwa tidak semua warga diperbolehkan untuk menggunakan layanan penerbangan. Ini juga berlaku di matra transportasi, yaitu darat dan laut.

Sobat traveler juga perlu ketahui bahwa calon penumpang yang ingin menggunakan layanan udara hanyalah orang-orang tertentu saja dan bukan dalam rangka mudik.

Adapun kriteria orang yang boleh naik pesawat berdasarkan Surat Edaran Gugus Tugas yang telah disebutkan di atas adalah sebagai berikut:

  1. Pekerja yang berada di lingkungan lembaga pemerintahan atau swasta di sektor layanan percepatan penanganan Covid-19, layanan keamanan dan ketertiban umum, layanan kesehatan, layanan kebutuhan masyarakat, dan layanan fungsi ekonomi penting.
  2. Pasien yang harus dirawat di daerah lain dan/atau keluarga inti yang ingin menemani pasien berobat.
  3. Keluarga yang ingin mengunjungi keluarganya yang meninggal.
  4. Pemulangan WNI dari luar negeri (pekerja migran dan pelajar/mahasiswa).



Dokumen Perjalanan Bertambah


Sebelum Covid-19 menyerang dunia, dokumen perjalanan yang dibutuhkan oleh calon penumpang pesawat hanya kartu identitas yang sah, bisa berupa KTP atau Paspor yang harus diperlihatkan saat check in di bandara.

Tapi kali ini situasinya sangat berbeda. Selain tanda pengenal yang sah, calon penumpang diwajibakan untuk melengkapi dirinya dengan berbagai dokumen yang telah ditetapkan oleh Pemerintah, yakni:

  1. Surat Tugas dari instansi/lembaga/perusahaan tempat calon penumpang bekerja. Surat ini sebagai bukti bahwa calon penumpang melakukan perjalanan udara dalam rangka tugas dinas atau bisnis, bukan mudik.
  2. Bila calon penumpang tidak memiliki lembaga/perusahaan tapi ingin melakukan perjalanan bisnis, bisa membuat Surat Pernyataan yang ditandatangani di atas materai dan diketahui oleh Lurah atau Kepala Desa setempat. 
  3. Surat Keterangan Hasil Negatif Covid-19 yang diambil setelah calon penumpang melakukan Tes Cepat, Swab atau PCR. Surat ini maksimal bisa digunakan oleh calon penumpang 7 hari setelah dikeluarkan.
  4. Surat Pernyataan Perjalanan dalam Rangka Pengendalian Covid-19 di Indonesia (Catatan: surat pernyataan ini Admin temukan di situs resmi Garuda Indonesia Airlines). Surat pernyataan jenis ini mungkin juga diberlakukan di semua maskapai.
  5. Surat Rujukan bagi pasien yang akan berobat ke daerah lain dan/atau calon penumpang yang ingin mengunjungi keluarga intinya yang sedang sakit parah.
  6. Surat Keterangan Kematian bagi calon penumpang yang ingin mengunjungi keluarga intinya yang meninggal dunia.
  7. Surat Keterangan dari Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BPPMI) atau dari perwakilan RI di luar negeri bagi calon penumpang berstatus Pekerja Migran Indonesia.
  8. Surat Keterangan dari sekolah atau kampus bagi calon penumpang yang berstatus pelajar atau mahasiswa.
  9. Surat Keterangan dari Kantor Perwakilan RI di luar negeri bagi calon penumpang yang ingin balik ke Indonesia dengan alasan khusus.

Sebenarnya masih ada lagi dokumen yang harus disiapkan oleh calon penumpang, yaitu Kartu Kewaspadaan Kesehatan (Health Alert Card). Tapi kartu ini akan diisi oleh calon penumpang saat tiba di bandara keberangkatan dan kedatangan.

Dokumen ini juga bisa diunduh lewat hp sehingga memudahkan calon penumpang dan petugas bandara nantinya. Kartu ini akan dicek saat pemeriksaan suhu tubuh di bandara sekaligus pemeriksaan semua dokumen yang telah disebutkan sebelumnya.

Maskapai yang Beroperasi


Sampai artikel ini ditulis, ada 5 maskapai yang secara resmi mengumumkan kembali beroperasi di tengah pandemik ini, yakni:
  1. Garuda Indonesia yang mulai buka pada 6 Mei 2020;
  2. Lion Air Group yang terdiri dari Lion Air, Batik Air, dan Wings Air membuka penjualan pada 10 Mei 2020; serta
  3. Sriwijaya Air yang kembali beroperasi pada 13 Mei 2020.

Khusus Sriwijaya Air, Admin mendapatkan jadwal lengkapnya, dimana rute yang dibuka hanya rute tertentu saja dan ada rute yang tidak setiap hari dibuka. Misalnya saja rute dari Jakarta ke Medan hanya dibuka pada Senin, Rabu, Jumat dan Ahad dengan jadwal keberangkatan pada pukul 18:00 WIB.

Buat sobat traveler yang ingin mengetahui jadwal lengkapnya, silakan chat dengan Admin via WhatsApp DISINI.

Informasi terbaru yang Admin peroleh saat menulis artikel ini adalah Air Asia akan membuka kembali layanannya pada 1 Juni 2020 untuk rute-rute tertentu saja.

Hal Negatif yang Sempat Terjadi


Sampai artikel ini dimuat, setidaknya ada 2 (dua) hal negatif yang terjadi pasca diizinkannya maskapai mengangkut penumpang kembali, yaitu terjadinya pembludakan penumpang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Kamis (14/5/2020) dan kelebihan pembatasan jumlah penumpang dalam satu penerbangan.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa wabah ini masih terjadi dan setiap orang diharapkan mampu menjaga diri agar tidak tertular. Hal ini tertuang dalam aturan Pemerintah dalam rangka percepatan penanganan Covid-19 di Indonesia.

Selain rajin mencuci tangan, hal lain yang perlu diperhatikan oleh calon penumpang adalah jaga jarak saat berada di tempat umum, tidak terkecuali bandara dan dalam kabin pesawat.

Bila melihat apa yang terjadi di Bandara Soetta pada Kamis kemarin, pihak Angkasa Pura II belum siap betul menerima penumpang, sehingga terjadi penumpukan penumpang. Mungkin ada beberapa faktor yang memicunya, diantaranya adalah jadwal penerbangan yang sangat dekat dan proses pemeriksaan dokumen yang memakan waktu yang lama.

Khusus jumlah penumpang dalam satu penerbangan memang dibatasi oleh Pemerintah, yaitu maksimal 50% dari total kursi yang ada. Itu artinya bahwa ada beberapa kursi yang kosong dengan harapan penjarakan fisik dalam pesawat tetap terjaga.

Dengan dibatasinya jumlah penumpang dalam satu penerbangan, maka dipastikan harga akan semakin naik. Apalagi ini termasuk peak season.

Nah itu dia sobat traveler 5 fakta seputar diizinkannya maskapai mengangkut penumpang di tengah pandemik Covid-19. Semoga kita semua bisa menggunakan kesempatan ini dengan bijak untuk selalu menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain dengan cara selalu mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.

Semoga wabah ini segera berakhir dan kita semua bisa beraktifitas seperti sedia kala. Aamiin ya rabbal 'alamiin.

No comments:

Post a comment

Bottom Ad [Post Page]