Post Page Advertisement [Top]

danau bratantravelzulchaeril

SPEED BOATING plus “PEMOTRETAN” ON-Boat Diantara Kabut Danau Bratan

Liburan di Danau Bratan
Liburan di Danau Bratan (Foto oleh Kontributor)


"Boatnya berapa, bli?" tanyaku pada si Bli berbaju putih dengan celana kain hitam, sang pemilik boat yang sedang menunggu pelanggan di tepi Danau Beratan Bedugul.

"Satu boat 150 ribu, kalau 5 orang bisa dibagi biayanya"

"Kami 5 orang bisa naik semua?" tanyaku lagi.

"Bisa...pas kalau 5 orang, maksimal 6 orang bersama driver. Jadi kalau kalian berlima, semua dapat kursi. Kami berlima berpandangan lagi dan saling angguk tanda sepakat untuk menjajal boat ini.

"Okelah Bli, yuk naik" kataku sambil mengajak keempat temanku naik.


Itu sedikit cuplikan dialog antara bli Bali, pemilik (atau mungkin driver) boat di Danau Beratan Bedugul, dengan para calon penumpang (termasuk kami tentunya) yang sudah tak sabar untuk segera berpesiar ria di tengah sejuknya (dinginnya) Danau Beratan. Sehabis membuat deal dengan Bli tadi, kami berlima langsung naik ke boat, lebih tepatnya speedboat bermesin untuk menjelajahi berbagai sudut Danau yang berlokasi di pegunungan bagian tengah pulau Bali ini. Setelah kami naik, disusul oleh si Bli yang duduk di kursi kemudi Boat. Ima dan Kiki duduk di baris depan di samping driver. Aku, Fitrah dan Desi ambil kursi di baris belakang, dengan Desi duduk diantara aku dan Fitrah.


Awalnya status kami berlima hanya sebagai penumpang. Si Bli Bali inilah yang menjadi nahkoda alias Driver yang mengemudikan setir boat. Eh, tapi benar tidak ya jika kemudinya disebut setir, soalnya memang mirip setir mobil, bedanya boat ini tidak punya ban layaknya mobil, hehe.


Semakin dekat ke bagian tengah danau, boatnya semakin melambat. Salah satu temanku Desi yang duduk tepat di sampingku, menoleh ke arahku dan menatapku lalu menunjukkan ekspresi aneh rada ketakutan. Temanku yang lain memandang ke sekeliling mungkin dengan perasaan bergidik. Aku tahu apa yang ada dipikiran mereka. Mereka pasti lagi berpikir "Mengapa boat ini jadi makin lambat di tengah danau yang semakin jauh dari tepian seperti ini ya? Apakah driver boat alias si bli Bali ini punya niat jahat pada kita semua?" haha. Tapi kurasa wajar saja sih Desi dan temanku yang lain punya pikiran begitu, ditambah lagi suasana danau yang diselimuti kabut dengan jarak pandang yang kuprediksi tidak lebih dari 100 meter, menambah mencekam suasana ini.


Makin lambat, makin lambat. Dan….boatnya berhenti. 

Gubraaak. 

Kami berlima saling berpandangan. Ada yang senyum senyum kecut, ada yang garuk-garuk kepala. Luculah rasanya kalau mengingat itu lagi. Lalu si Bli berkata dengan nada khas Balinya "Ayo, siapa yang mau coba menyetir boatnya, silahkan. Sambil saya persiapkan kamera untuk memotret.”

"Ulalaaah" si Ima tanpa sadar bergumam yang membuat si Bli Bali menatap kearahnya dengan senyum.

Haaaaammmm.....hampir serentak kami menghembuskan nafas panjang. Ternyata ini maksud si Bli membawa kita ke tengah danau , lalu  makin lambat dan menghentikan boatnya, semua karena si Bli mau menawarkan pada kami untuk coba mengemudi boatnya. Hahay, sekarang aku tahu apa yang ada dalam pikiran keempat temanku ini: perasaan kegirangan dan tentunya super duper ingin dan tak tertahankan lagi untuk segera coba menjajal boat ini. Excited.



"Ayo siapa yang mau duluan?", kata si BLI. 

Lalu si Ima langsung menimpali, "Kiki, kamu saja yang duluan, Ki", sambil Ima menatap ke arah Kiki. 

Yang lain juga bilang, "Iya Ki, kamu duluan yaah".

Saya jadi senyum sendiri, bertanya dalam hati, "Mengapa sepertinya selama traveling ini, teman temanku sering memandang Kiki bahwa dialah yang paling berpengalaman untuk urusan traveling?". 

Apa mungkin karena sejak masuk SMA dulu Kiki memang sudah terkenal selalu pergi dan mengunjungi banyak destinasi di Indonesia? 

"Hmm... Mungkin saja",  gumamku dalam hati.


Tak lama ku tersadar dari pikiranku sendiri. Kiki ternyata sudah ambil posisi duduk di kursi driver depan kemudi boat ini. Hanya dengan sedikit injakan gas dan boat perlahan maju. Awalnya keempat temanku yang lain pasang ekspresi was-was saat boat baru mulai melaju. Kiki menyetir dengan style yang lumayan keren menurutku. 

Desi tiba tiba setengah berteriak, "Wooooooo....wooooooo" 

Ima menyusul lalu begitupun aku dan Fitrah. Semuanya tak ingin ketinggalan merayakan perasaan gembira ini.


Sensasinya menyenangkan, memacu adrenalin di atas speedboat yang melaju sesekali bermanuver ditengah kabut yang dingin dan cenderung terasa mistis, dengan bukit-bukit rimbun oleh pepohonan memenuhi punggung perbukitan yang nyaris berdiri tegak di sekeliling Danau ini. 

Namun yang paling mendebarkan adalah ketika Kiki melakukan manuver tajam dengan memutar setir dengan putaran yang besar.

"Wooooooooooo....aaarrrrrghhh", teriakan kompak kami berempat yang berada di belakang Kiki dan memekik berulang ulang. Seru...sangat seru.


Si Bli Bali yang mungkin sejak tadi sudah bersiap dengan kameranya, memberi aba-aba dengan tangannya pertanda stop kepada Kiki. Kiki yang sudah paham langsung melambatkan gas, dan beberapa detik kemudian boat berhenti kembali, mengapung apung dipermukaan Danau.

Bli Bali yang tadi duduk di samping Kiki, berpindah ke depan boat di bagian casingnya (atau apalah namanya) yang terletak di depan kemudi. Dia berjongkok menghadap ke Kiki dan siap memotret Kiki.

Sontak aku bilang pada si Bli, "Bli bisa foto on boat juga ya?" 

"Iya, bisa", jawab si Bli.

"Berapa Bli?", Desi menimpali. 

"Satu foto 25 ribu, cetak ekspres 5 menit jadi. Plus pake bingkai karton tebal khas wisata Danau Beratan Bali dan sampul plastik”.


“Ukuran fotonya berapa Bli?” tanya Ima.

“Empat R”, jawab si Bli lagi.

"Oke, oke", jawab kami hampir serentak.


Brrrrrr...suasana makin dingin. Kiki yang memang sejak tadi kelihatannya sudah siap berpose untuk dipotret,  sedikit memperbaiki posisinya agar sesuai dengan gaya berfoto yang dia inginkan dalam hasil fotonya nanti.

Topi Fedora abu-abu bergaris hitam melingkar dibagian atas yang sejak awal tadi bertengger di kepalanya, tak luput dari sarana penunjang gayanya. Potretan pertama, Kiki memegang setir dengan tangan kanannya sambil tangan kirinya memegang topi fedoranya dibagian atas. 

Wuih keren, bak driver boat mentereng yang kadang muncul di film-film. Potretan kedua, ketiga dan keempat aku tak lagi memperhatikannya. Aku mulai sibuk dengan pikiranku sendiri, membayangkan gaya berfoto seperti apa yang akan kuambil saat giliranku mengemudi dan berfoto bersama boat ini sebentar lagi. Pastinya aku tak ingin gaya berfotoku akan kalah dengan kerennya boat ini. Pokoknya aku harus memilih gaya terbaik yang sama bagusnya dengan boat ini sendiri. Hitung-hitung pemotretan on-boat ini adalah sarana latihan sebelum ikut casting model nanti. In Your Dream Honey, Wkwkwkw.


Selanjutnya giliran Ima, lalu Desi, aku dan terakhir Fitrah. Lagi-lagi saat giliran Ima menyetir boat ini, semua memekik dan merasakan keseruan. Tapi bagian yang paling kuingat adalah saat giliran Desi mengemudi, Ima duduk di samping Desi dan aku ambil posisi tepat di belakang Ima. Aku duduk diatas Cover belakang Boat. Kuangkat kaki kiriku, kujulurkan ke depan tepat di samping bahu Ima yang duduk santai di kursi depan. Aku sengaja ambil posisi duduk yang tidak terlalu rendah seperti saat ini, aku duduk diatas cover belakang boat, sebagai strategi agar aku bisa terlihat lebih tinggi saat dipotret kamera. Lalu saat boat berada di puncak kecepatannya, aku merasa diriku tertarik ke belakang dan hampir terjatuh ke samping kiri boat ke arah air Danau saat Desi menikung boat ini ke kanan. Oh My God. Tak bisa kubayangkan jika diriku jatuh ke Danau yang lumayan terasa mistis ini. Untung saja ada pegangan yang kuat di tanganku tadi. Sontak Ima menoleh kebelakang saat dia melihat kakiku yang hampir terjatuh ke danau. Dan tawa terbahak bahak antara kami semua pecah dengan happeningnya. Hahahaha.



Setelah kami semua ambil giliran berfoto dengan berbagai gaya favorit kami masing masing, Si Bli Bali berkata, “Ayo waktunya hampir habis, sekarang giliran saya yang nyetir boatnya. Kita kembali ke Dermaga dan lihat hasil fotonya”.

Kami berlima mengangguk pertanda puas sekaligus tak sabar lagi untuk melihat hasil potretan Bli Bali ini. Maklum generasi milenial yang sudah terbiasa dengan selfie, kemungkinan besar akan merasa was-was manakala foto mereka diambil oleh kamera yang dipegang oleh tangan orang lain. Dan tentu saja, tak sabar buat cepat cepat lihat hasilnya.


Tak terasa sudah 1 jam lebih kami "berpetualang” di tengah danau Beratan yang terasa mistis, apalagi saat dikunjungi pada musim hujan seperti ini. Si Bli kembali pada perannya semula sebagai driver boat, menginjak gas dan memutar setir boat menuju ke area tepi Pura Ulundanu yang terletak tepat di sisi Danau yang bangunan utama puranya menjorok ke dalam Danau. Majestic dengan warna-warna keemasan menghiasi banyak ornament dan kain-kain di sekelilingnya.


Kami berlima kembali saling berpandangan. Tapi alih-alih kami pasang ekspresi ketakutan seperti di tengah danau tadi, semua justru sumringah sebab kami sudah paham bahwa si Bli punya niat baik untuk memperlihatkan kami salah satu Pura terunik di Bali yang begitu sering menjadi ikon Pulau Bali di berbagai Brosur ataupun promosi wisata lainnya. Ya inilah Pura Ulun Danu. Akhirnya sekelompok traveler amatiran dari Sulawesi ini sudah menyaksikan langsung pura tersebut. 


Lalu boat berhenti, tapi posisinya masih ada beberapa meter dari tepian Pura. Si Bli bilang, “Ayo, ada yang mau foto dengan latar Pura Ulundanu? Silahkan”.

Desi ngacung pertama, ”Saya Bli”. Lalu dia berdiri dan tak perlu menunggu lama untuknya berpose dengan topi fedoranya sambil bertolak pinggang dengan pose ala pose di red carpet Grammy awards. Maklumlah memang kami semua sejak masuk SMA hingga kuliah saat ini, sangat gandrung dengan music, film dan acara acara penghargaan/awards di Amerika sana. 


Sehabis kami berlima berfoto berlatar pura Ulundanu, si Bli bilang, “Oke, sekarang kita cetak semua fotonya ya”. 

Setiap lembaran foto butuh waktu tidak lebih dari 1 menit untuk mencetaknya. Saya cetak 5 foto.Teman teman yang lain ada yang lebih banyak dari saya. Ada yang lebih sedikit. Seperti Fitrah yang hanya mencetak 4 foto.Berlanjut ke transaksi uang, semuanya membayar sesuai jumlah foto yang dicetak.


Agenda berpesiar di tengah danau Beratan rampung, bersama semua “pemotretan” dan transaksi hasil fotonya. Si Bli Bali kembali ke kursi kemudi boat, lalu mengarahkan boat balik ke Dermaga tempat kami naik tadi. Lima orang traveler amatiran ini melangkahkan kaki keluar dari boat, dengan perasaan bangga sebab beberapa foto speedboating di tengah Danau Beratan sudah ditangan yang pastinya nanti akan menjadi cinderamata sekaligus sarana unjuk gigi pada kerabat di Sulawesi yang belum pernah berkunjung ke Danau Beratan Bedugul Bali ini. Sembari berjalan, kami kembali menyusun rencana untuk mengeksplor bagian Bali mana lagi selanjutnya.


Kontributor: Muhammad Zulchaeril




No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]