Post Page Advertisement [Top]

air terjun silikan bongkidesa benakitandestinasi wisatadian arsandikalimantan tengahtravel

Air Terjun Silikan Bongki, Destinasi Wisata Tersembunyi yang Menyimpan Beribu Cerita Di Desa Benakitan, Kalimantan Tengah

Air terjun Silikan Bongki
Air Terjun Silikan Bongki (Foto: Koleksi pribadi Dian Arsandi)



x

Di sebuah desa di daerah pedalaman Kalimantan Tengah, tepatnya di Desa Benakitan, Kabupaten Lamandau, Provinsi Kalimantan Tengah, terdapat sebuah desa yang jauh dari kata kemajuan teknologi, bahkan untuk listrik pun masyarakat disana belum merasakan. Namun daerah yang masih terbilang jauh dari hiruk-pikuk ini memiliki banyak destinasi wisata alam yang masih asri dan sudah sangat jarang ditemui di zaman sekarang ini.

 

 

Salah satunya adalah Air terjun Silikan Bongki, sebuah tempat yang memiliki pesona alam yang masih asri dan indah, dengan kejernihan air yang PH-nya hampir mirip dengan kualitas air minum kemasan terkenal di Indonesia. Jadi tidak heran jika pesona alam di lokasi wisata ini sangat menakjubkan. Dengan dikelilingi oleh bebatuan dan tanaman asli Kalimantan menambah eksotisnya suasana tenang di tempat ini.

 

 

Di aliran air terjun ini terdapat sebuah lubang yang memiliki kisah turun temurun dari masyarakat sekitar. Lubang tersebut menurut cerita adalah tempat tinggal manusia jadi-jadian yang memiliki badan seperti katam/kepiting dan berkepala manusia yang diberi nama Makhluk Bongki. Dari nama makhluk inilah penamaan air terjun ini diambil, dan sekarang terkenal dengan nama “SILIKAN BONGKI”.

 

 

Makhluk Bongki ini sendiri menurut mitos yang beredar dimasyarakat diketahui adalah penjaga daerah tempat air terjun ini berada, dia tidak mengganggu, namun jika ada yang hendak berbuat jahat di sekitar daerah itu maka dia akan menyerang orang itu. Itulah penyebab adanya aturan untuk tidak bicara sembarangan saat berada di daerah air terjun ini. Selain itu memang di aliran sungai kecil di hilir air terjun ini memang banyak ditemui ketam-ketam / kepiting sungai kecil yamg hidup. Dari hal inilah mitos ini menjadi sangat kuat hidup dimasyarakat.

 

 

 

Sayangnya tempat yang indah ini masih belum banyak diketahui orang. Selain tempatnya yang jauh dari keramaian juga ditambah kurangnya manajemen promosi oleh pemerintah setempat membuat destinasi wisata ini kurang dikunjungi orang banyak.

 

 

Selama ini air terjun tersebut sangat jarang dikunjungi orang. Hanya sesekali para pengunjung yang sebagian besar berasal dari keluarga kampung setempat yang hidup di kota masih berkunjung kesini, menurut penuturan warga yang berdiam di desa lokasi air terjun tersebut.

 

 

Air terjun ini sendiri terletak di dalam hutan yang masih alami yang jaraknya sebenarnya tidak begitu jauh dari jalan utama menuju desa, mungkin sekitar 1 sampai dengan 2 km. Namun akses kedalam masih belum bisa dilalui oleh kendaraan bermotor. Jadi selain berwisata para pengunjung juga berolahraga di kampung tersebut.

 

 

Jika saat musim buah durian maka kita bisa mendapatkan tambahan wisata buah, karena kampung ini merupakan kampung yang terkenal dengan penghasil buah durian. Di atas bukit benyawai tempat air terjun ini berada merupakan hutan yang terdapat ribuan pohon durian hutan. Maka tak jarang jika musim buah tiba pengunjung air terjun juga bisa menikmati buah durian dari kampung ini.

 

 

Di sekitar lokasi air terjun juga para pengunjung bisa melihat pemandangan keaslian cara hidup bercocok tanam Suku Dayak karena warga desa ini adalah warga yang berbudaya Dayak yang masih menggunakan adat budaya Dayak dalam kehidupan sehari-harinya, termasuk didalamnya cara bercocok tanam. Jadi para pengunjung bisa melihat tambahan objek wisata kehidupan masyarakat adat dalam bercocok tanam.

 

 

Jika Anda para penikmat dan pemburu wisata alam yang masih asri maka lokasi ini adalah lokasi yang pas untuk Anda menikmati destinasi wisata alam, dengan segala isi alam yang masih benar-benar alami, atau dijadikan sebagai tempat berpetualang di alam bebas untuk sejenak menenangkan pikiran dari hiruk-pikuk pekerjaan Anda sehari-hari.

 

 

Akses menuju desa tersebut juga terbilang sangat mulus, karena hanya berjarak 2 jam perjalanan dari Kota Lamandau dengan akses jalan aspal yang mulus. Bagi yang ingin menginap memang tidak disediakan tempat penginapan khusus seperti hotel maupun losmen, namun para pengunjung bisa tidur di tempat yang sudah disediakan oleh agen perjalanan yang kebanyakan adalah rumah warga disekitar lokasi tersebut. Walaupun sebenarnya bisa untuk langsung balik setelah menikmati wisata air terjun namun rasanya tidak komplit jika tidak mengunjungi objek-objek wisata menarik lainnya karena untuk wisata seperti sungai dan arung jeram juga sangat menawan di daerah ini.

 

 

Seperti pengalaman yang sudah penulis rasakan, waktu 2 hari adalah waktu yang paling cepat untuk menikmati semua destinasi di daerah ini. Setelah 1 hari menikmati Air Terjun Silikan Bongki dan wisata buah durian, masih ada destinasi riam / arung jeram Keladu di sungai yang terdapat di desa ini yang ingin dikunjungi keesokan harinya. Air dan bebatuan alam yang masih asri dan menawan di tempat ini seperti menghipnotis kita dan menenangkan pikiran untuk sejenak melupakan hiruk-pikuk urusan pekerjaan dan lain-lain.

 

Di atas lokasi air terjun ini sendiri kita bisa menikmati wisata bukit Benyawai dengan keindahan puncak yang membuat kita seolah-olah berada di atas awan. Namun untuk mencapai lokasi ini memang dibutuhkan tenaga karena harus mendaki selama kurang lebih 2-3 jam ke puncak bukitnya karena belum ada kendaraan yang bisa digunakan untuk mengakses lokasi ini. Lokasi ini sangat cocok sekali untuk kalian yang suka petualangan mendaki daerah tinggi yang masih berupa hutan lebat sepanjang jalannya.

 

 

Untuk mendapatkan semua pengalaman ini pun kita tidak perlu mengocek dana yang terlalu besar. Penulis mengeluarkan dana sekitar 1-1,5 juta untuk semua fasilitas wisata yang kita nikmati selama 3 hari, itu semua sudah termasuk transportasi, makan, menginap, sewa perahu dan buah-buahan (terbatas), tentu saja terbilang sangat murah untuk pengalaman yang didapatkan.



Kontributor: Dian Arsandi

 

No comments:

Post a comment

Bottom Ad [Post Page]